Membuat Paspor Sendiri

Pengajuan pembuatan paspor, 27 Januari 2015
Akhirnya jalan juga untuk membuat passport sendiri. Sebenarnya sudah lama ingin buat passport. Apalagi suami yang memang sudah punya selalu mengingatkan untuk saya buat.
Sekitar tiga tahun lalu, saya mulai menghubungi biro jasa untuk membuat passport. Belum kepikiran deh mau buat sendiri karena kebayang bakal ribet. Saat disebut kan persyaratannya, salah satu yang mengganjal adalah nama yang tercantum di surat nikah berbeda dengan akte dan KTP jadi kata biro jasanya itu saya harus rubah dulu surat nikahnya. Padahal kalau mau revisi surat nikah harus ke Semarang tempat dimana surat tersebut keluarkan. Ya udah jadi tertunda lagi cukup lama. Sampai sekitar 3 bulan lalu saya kepikiran untuk buat sendiri. Mulai deh cari-cari info.
Untuk menghindari antrian panjang yang memang paling ngga saya sukai, saya Coba untuk pengajuan secara online.
Lanjutkan membaca “Membuat Paspor Sendiri”

Andai Bisa Kuhentikan Waktu

Image
I love you

Saya tidak ingin menambahkan jumlah jam dalam sehari. Biarlah tetap 24. Jika boleh berandai-andai, saya hanya ingin menghentikan waktu untuk sementara dan melakukan semua yang terlewatkan, menyelesaikan yang tertunda, menambah yang masih sangat kurang. Mungkin listnya akan menjadi sangat panjang. Kalau boleh diuraikan seperti ini :

  1. Menemani bayi kecilku Raesa di usianya yang akan masuk 6 bulan di akhir bulan ini, menyiapkan menu makan pertamanya, mengukuti semua perkembangannya, memberikan asi exclusive yang lebih, memeluknya lebih lama, menyenandungkan banyak lagu dan masih banyak lagi
  2. Bermain lebih lama dengan catikku Kaira, mengajarinya lagu-lagu baru, memeluk tidurnya, menyuapi, menemaninya berdandan, mengajarinya naik sepeda roda dua barunya yang sampai sekarang belum bisa dia naiki, lebih lama jalan pagi bersama, mendengar dia melucu dan menghayal dan banyak lagi
  3. Menemani pintarku Tanisha menyelesaikan tumpukkan lukisan crayonnya, mendengarkan dia bercerita tentang banyak hal baru, membacakan dongeng sebelum tidur, menemani tidurnya, mendokumentasikan prestasinya, menjawab semua keingintahuannya, bercanda bersama, dan banyakkk lagi
  4. Memasakkan cintaku Ayah masakan kesukaannya, membuat bekal makan siangnya, menemaninya minum kopi dan baca Koran, mendampingi malamnya, bercanda dan bercerita, memijit lelahnya, dan masih banyak lagi..
  5. Pulang kampung (banyak hal dilakukan bersama keluarga besar, teman kecil dan sahabat)
  6. Menyelesaikan deadline kantor
  7. Menyelesaikan deadline pribadi (lebih mendekatkan diri dengan sang Pencipta) dan keluarga
  8. Ngeblogggggg dan BW, mengikuti perkembangan sahabat emak2 blogger dan keluarganya dan bersilaturahmi , kopdar dengan teman2 baru
  9. Baca novel, komik, nonton film yang udah banyak terlewat
  10. Masak sampai puas
  11. Denger music dan ke salon
  12. Belanjaaaa
  13. Senam
  14. Liburan
  15. Dst, etc, dll, ….

Tapi sayang waktu berandai-andai sudah habis. Dan saatnya melanjutkan terjemahan tulisan kriting ke lurus (Thai to Indo).

Apapun, saya hanya bisa menjalani semua yang ada dengan penuh syukur dan tetap semangat. Hidup itu memilih. Dan akan selalu begitu. Selalu dihadapkan pada pilihan. Saat kita memilih, itulah yang kita jalani dengan penuh tanggung jawab. Yakin Allah selalu memberi yang terbaik dan semua akan indah pada waktunya. Miss u all. Hugs 🙂

Belajar Menulis Cerita Sendiri

Tanisha berkunjung ke Penerbit Erlangga, saat di perpustakaannya (foto dari Bu Guru Syifa – salah satu wali kelas Tanisha)

Kemarin Tanisha baru saja berkunjung ke Penerbit Erlangga di Jakartta Timur bersama guru dan teman-teman sekolahnya. Tiga hari sebelumnya memang sudah sangat antusias untuk bisa berkunjungan ke pabrik buku, seperti yang dibilang Tanisha sama semua orang di rumah. Nah semalam sepulang saya kerja, seperti biasa anak-anak menyambut dengan semangat bercerita tentang hari mereka di hari itu. Mbak Nisha dengan cerita ke pabrik bukunya dan Dek Aira bercerita tentang temennya yang namanya Ayu yang sedang berulang tahun dan dirayakan di sekolah.

Setelah anak-anak selesai dengan ceritanya masing-masing, Mbak Nisha memperlihatkan sebuat buku notes kecil warna merah jambu, yang dari cerita sebelumnya salah satu dari hadiah saat berkunjung ke pabrik buku tersebut.

 

“Ma lihat deh, ini”, Mba Nisha membuka buku notes kecil warna merah jambunya.

“Apa sayang?”

“Baca Ma, aku nulis cerita”, sambil menunjuk ke cover notes.

“Waaa hebat banget anak Mama”

Saya melihat tulisan Tanisha di cover buku kecil itu.

 

Memang hanya beberapa kata yang dirangkai menjadi kalimat. Tapi itu tetap membuat saya bangga sekaligus terharu. Saat ini, Tanisha memang membacanya masih pelan-pelan, tapi baru kali ini saya melihat sendiri dia berusaha menulis apa yang ingin dia ceritakan. Beberapa kata masih harus diperbaiki penulisannya, tapi itu tidak salah. Saya memang masih menunggu rangkaian kata yang akan ditulisnya jadi belum saya foto dulu. Cerita yang ditulisnya seperti ini :

 ‘Sewatu hari kura-kura ada di sungai.diya sedang berenang.sangat cepat.kemudiyan datang seekor kucing datang menghampirinya.’

Pagi tadi sebelum berangkat sekolah, Tanisha berusaha meneruskan tulisannya lagi. Dan dia bilang,

“Aku mau nulis cerita yang panjang kaya di buku”

“Bagus itu Nak. Terus berusaha nulis lagi ya, Mba Nisha pasti bisa”

“Iya kaya kemarin aku lihat di pabrik buku itu bukunya banyak trus aku diajarin sama kakak disitu. Kakaknya cantik banget Ma kaya cherybelle. Kakak itu tapi kakinya ditutup pakai yang warna item itu”

(maksud Mba Nisha kakak yang cantik itu kakinya pakai stoking warna item hehehe..)

“Ya udah Mba Nisha terus berusaha nulis yang banyak nanti kalau udah jadi Mama kirim ke penerbit”

“Penerbit itu apa?”

“Penerbit itu yang seperti Mba Nisha datengin kemarin, yang membuat atau mencetak buku-buku dari tulisan yang dikirim sama orang-orang atau penulis”

“Oh tapi jauh loh Ma, ada di Jakarta Timur, memang Mama tau tempatnya?”

“Memang jauh Sayang, tapi kan ada alamatnya, bisa kirim tulisan Mba Nisha lewat Pak Pos, yang dikirim dimasukkan amplop itu. Atau bisa lewat email di komputer Mama yang sudah dihubungkan sama internet. Yang Mba Nisha suka lihat Mama kerja di komputer itu”

“Oh bisa sampai ya Ma. Mba Nisha mau Ma dikirim cerita Mba Nisha”

“Ya udah nulis yang banyak dulu ya, tapi kalau nulis itu jangan terpaksa, Mba Nisha harus senang. Kalau sedang capek istrirahat dulu nanti bisa dilanjutkan lagi.”

Lalu Mba Nisha menutup notes kecilnya dan memasukkan ke dalam tas. Dia menyudahi ceritanya dan bersiap berangkat sekolah.

Terima kasih ya Allah, hamba sungguh bersyukur atas apa yang telah Engkau anugrahkan. Semoga Engkau wujudkan cita-cita anak-anak kami. Amin.

Ke Bioskop

ke bioskop 🙂

Hari Minggu kemarin kami sekeluarga ke bioskop. Sebenarnya rencana awal minggu lalu, tapi saya sempat ngga enak badan dan harus banyak istirahat jadi diundur sampai minggu kemarin.

Untuk nonton film ke bioskop, ini adalah yang kedua kalinya buat anak-anak. Pertama mereka nonton Ambilkan Bulan dan yang kedua ini Petualangan Singa Pemberani (Paddle Pop). Saat nonton pertama kali dulu, Ambilkan Bulan, anak-anak antusias banget dan setelah itu mereka selalu nunggu film anak-anak diputar lagi di bioskop.

Lanjutkan membaca “Ke Bioskop”

Tanisha : Sepeda Roda Dua, Membaca dan Sholat

Waktu rasanya berlalu cepet banget. Apalagi rutinitas kerjaan yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Dan setiap bertemu dengan anak-anak di rumah, selalu ada yang baru. Mereka tumbuh dan berkembang begitu menakjubkan. Tapi sayang, banyak juga yang terlewat untuk diabadikan 😦 Kali ini saya mau bercerita tentang Tanisha.

Tanisha dan sepeda roda dua. Hampir dua bulan terakhir si Sulungku ini sudah bisa naik sepeda roda dua. Semakin hari semakin lincah aja. Awalnya memang masih belum punya banyak keberanian, tapi karena melihat teman-temannya sudah banyak yang bisa akhirnya penasarannya juga mau nyoba dan belajar. Waktu belajar juga ngga langsung naik sepedanya sendiri tapi pinjam sepeda temannya yang ukurannya lebih kecil. Terima kasih ya buat Nabila dan Rara, teman-tetamn Nisha yang memang tetangga juga, yang sudah berbaik hati mau meminjamkan sepedanya. Sekitar seminggu belajar dengan sepeda roda dua kecil milik teman-temannya itu, akhirnya Nisha punya keberanian juga mengayuh sepedanya sendiri.

Lanjutkan membaca “Tanisha : Sepeda Roda Dua, Membaca dan Sholat”

Inspirasi dan Harapan untuk Negeri

Assalamu’alaikum Mas Anin . Saya tahu sosok Mas Anin dari adik saya, dia mengidolakan Mas Anin sebagai sosok pengusaha muda yang sukses dan pintar terlepas dari embel-embel sebagai generasi ketiga keluarga Bakrie Group.  Setelah saya berusaha mengenal juga, banyak inspirasi positif yang bisa saya dapatkan. Dan saya juga ikut mengandai-andai bagaimana “ jika saya menjadi CEO Grup Bakrie.

Lanjutkan membaca “Inspirasi dan Harapan untuk Negeri”

Pentas Akhirussanah Toddler – PG – TK Citra Islami

Sabtu kemarin adalah acara pentas akhirussanah Toddler, PG dan TK Citra islami, tempat sekolah Tanisha. Acara itu merupakan acara tahununan sekolah di akhir tahun ajaran untuk menampilkan pentas anak-anak dan pengukuhan tinggal PG dan TK B yang dihadiri oleh semua siswa, guru, orang tua murid dan tamu undangan. Berlangsung di auditorium Citra Hospital Citra Raya Tangerang. Hari itu Tanisha bertugas untuk membacakan tata tertib selama acara berlangsung, menari bersama, bermain angklung dan bermain operet.

Lanjutkan membaca “Pentas Akhirussanah Toddler – PG – TK Citra Islami”