Lebaran di Semarang

Mudik tahun ini seperti tahun sebelumnya, tujuan pertama adalah di rumah Eyang Uti Sukorejo, kampung halaman suami saya. Sesuai dengan perjanjian saya dengan suami, setiap lebaran kita bergantian tempat untuk Hari Raya Idul Fitri. Jika sudah Idul Fitri hari pertama di Sukorejo, maka hari berikutnya di Semarang. Jumlah hari bisa menyesuaikan. Sukorejo adalah tempat asal suami saya dimana jarak tempuhnya sekitar 2 jam perjalanan dari Semarang. Masih terhitung satu arah lah jika ditempuh dari Tangerang. Jadi meski tujuan pertama di Sukorejo dua hari sebelum hari Raya Idul Fitri kita ke rumah Eyang To di Semarang, kampung halaman saya🙂

Keliling Simpang Lima naik becak🙂

Namanya juga di kampung halaman, memanfaatkan waktu singkat kita langsung berkeliling kota sambil berwisata kuliner. Dengan naik becak kita langsung menuju Bubur Ayam Simpang Lima. Bubur ayam di Semarang beda rasanya dengan Bubur Ayam di Jakarta mau pun Cirebon. Bubur ayam Semarang rasanya lebih manis. Selain itu kita juga hunting Tahu Petis, Es Marem dan Tahu gimbal. Mmm..jadi ngiler lagi nih😀 Kemudian malamnya kita sempatkan duduk-duduk di pinggir jalan Pahlawan yang memang asik buat nongkrong malam hari.

Sholat Ied pertama bersama anak-anak di Simpang Lima Semarang
@ jalan Pahlawan Semarang

Semarang sudah banyak berubah, kotanya semakin cantik, yang ngga berubah dan ngga akan pernah berubah adalah panasnya. Ampun deh. Panas banget kalau siang. Nah, karena panasnya kita sekeluarga dan keponakan-keponakan akhirnya memilih berenang ke Water Blaster. Cukup asik juga buat anak-anak bermain air. Mamanya juga bisa ikut menikmati, hehe..

Berenang @ Water Blaster Semarang (*foto yg lainnya lupa belum dipindah..hiks..😦 )

Tahun ini adalah giliran berlebaran hari pertama di Semarang. Karena saya memang lahir dan besar di Semarang, tentunya di Semarang saya punya banyak kenangan-kenangan yang seru saat lebaran. Acara yang paling khas dan paling ditunggu yaitu “Riyoyo” atau kependekan dari Ari oyo atau Hari Raya. Acaranya berupa tukar menukar makanan khas hari raya pada hari pertama idul Fitri. Setelah sholat Idul Fitri, setiap rumah membawa makanan dari rumah masih-masing yang diletakkan di sebuah nampan dan ditutup lalu dibawa oleh salah seorang anggota keluarga, khususnya anak-anak. Di atas tutup makanan diletakkan uang sukarela yang dibungkus daun atau kertas, yang penting tertutup. Makanan-makanan satu kampung tersebut dikumpulkan di tengah-tengah kampung di depan mushola, yang kebetulan berada persis di depan rumah saya. Setelah makanan dikumpulkan, kemudian dijajarkan dengan rapi. Si empunya pun duduk  sejajar dengan nampan makanan yang dibawanya. Uang sukarela yang dibawa dan dubungkus diserahkan ke perwakilan musholla untuk disedekahkan. Acara pengumpulan makanan diiringi dengan panggilan suara kentongan sampai dinilai semuanya sudah berkumpul. Sebelum acara tukar menukar tersebut sebelumnya dipinpin dengan pembacaan doa oleh perwakilan dari sesepuh di kampung diikurti dengan kata ‘amin’ dari yang lainnya. Para orang tua dan anggota keluarga lainnya berdiri melingkar mengitari jajaran makanan dan perwakilan keluarganya yang diuduk di dekatnya.  Sebenarnya acara akan berjalan tertib jika tukar menukar makanan benar-benar dilakukan tapi seiring berjalannya waktu acara tuka menukar jadi ajang berebut makanan. Tapi waktu berebutnya ini yang sekarang malah bikin seru. Anak-anak juga sudah mulai mengincar makanan kesukaannya sebelum berebut. Konon, acara seperti ini di kota Semarang yang tersisa hanya di kampung saya saja. Hehehe… Di acara Ari Oyo itu saya juga bisa bertemu dengan teman-teman kecil saya yang dulu juga sama ikut berebut makanan dan sekarang sudah digantikan posisinya oleh anak-anak kita masing-masing.

Acara Ari Oyo @ Kampung Karang Geneng Semarang

Oiya sebelumnya kita sholat Idul Fitri area Simpang Lima. Tahun ini adalah untuk pertama kalinya anak-anak sholat Ied di sana. Setelah acara Ari Oyo selesai kita sekeluarga sungkeman. Sungkeman dimulai dari sungkem ke orang tua kemudian dilanjutkan ke anak tertua dan seterusnya. Suasana seru saat acara Ari Oyo berubah jadi mengharu biru di acara sungkeman. Kita saling bermaaf-maafan dan mohon doa restu kepada orang tua. Suasana seru lagi saat mulai bagi-bagi amplop lebaran, hehehe..Setelah itu acara makan-makan dan dilanjutkan dengan silaturahim ke tetatangga-tetangga. Saat-saat seperti ini juga dimanfaatkan sebagai ajang reuni bersama teman-teman bermain waktu kecil dulu. Bahkan mungkin sudah menjalin pertemanan saat ibu-ibu kita dulu hamil kita😀

Bersama sepupu-sepupu dan saudara

Sungkeman berlanjut ke rumah saudara-saudara dan makan siang bersama keluarga besar. Wah seru sekali rasanya. Saya yang awalnya bertujuh yaitu kedua oratua dan lima bersaudara sekarang jadi 18 orang karena ada tambahan suami istri dan anak-anak. Padahal 6 tahun lalu kita masih bertujuh. Hahaha…

Rasanya waktu berkumpul bersama keluarga besar di Semarang berlalu begitu cepat. Sore harinya, kita sudah harus kembali ke Sukorejo untuk merayakan lebaran bersama keluarga besar yang disana. Semarang, kota yang selalu membuat saya kangen pulang. Kota tempat saya bermimpi mengabiskan masa tua di sebuah rumah impian disana.

*bersambung ke Lebaran di Sukorejo

7 thoughts on “Lebaran di Semarang

  1. Kebayang ramenya tradisi Riyoyo itu, apalagi kalo tinggal di kampung kita saja yang masih memelihara tradisi itu, bangga banget rasanya, hehe… Orang2 jaman dulu keknya emang pinter banget yah menciptakan tradisi untuk mempererat persaudaraan, kalo sekarang orang2 cenderung cuek dan sibuk sendiri😀

    Iya yah jeng, Semarang puanas e pollll…. Aku pernah sebulan di semarang di daerah Kedung Mundu dan emang di sana panaaas banget😀

    1. Iya jeng rame n seru banget deh pokoknya..apalagi bisa dapat makanan yg diincer hahaha…bener banget aku selalu kangen acara ini soalnya di tempat lain ngga ada🙂
      Wah logat jeng Lisa sudah semarang banget tuh..boleh jg😀 emang bener “puanase pollll” hahaha..
      Wah Kedung Mundu ya..masih mending tuh..masih banyak titik titik Semarang yg lebih panas😀

  2. ooohhh…kampung halaman mama dan ayah deketan ya, jadi ga repot mudiknya, bisa sekalian jalan. Acara Riyoyo-nya seru ya…nuansa silaturahmi di lebaran tambah lekat deh, harus dijaga nih Mba tradisi ini…

    Semarang panasnya kayak Bandar Lampung ga ya?

  3. wah senangnya mudik yah mbak…:) berkesan banget..dengan suka dan dukanya..biarpun mbak ruly kena macet banget..tetap indah mudiknya..
    suasana bahagia berkumpul bersama keluarga…senangnya…jalan jalan ke kota kampung halaman..:) bertemu sanak saudara..
    wah mbak kaira dan mba nisha kelihatan seneng tuh berenang ..di water park..
    mbak makasih sharingnya di email kemarin yah..belom sempat mbales🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s