Kangen Keluarga di Semarang

Saya bersama Bapak dan Adik saat dipernikahannya tiga tahun lalu

Pagi ini, waktu saya sedang mencari CD MP3 kesukaan saya, saya malah menemukan CD kumpulan foto pernikahan adik saya sekitar tiga tahun yang lalu. Saat melihat foto-foto itu kok rasanya jadi kangen sekali dengan mereka, keluarga di Semarang. Teringat semua kenangan masa kecil bersama Bapak, Mama, kakak dan adik-adik.  Saya adalah anak nomor dua dari lima bersaudara yang jarak umurnya dekat jadi kami berlima memang seperti teman saja. Kakak saya, Mba Ivo lahir setahun sebelum saya, setiap dua tahun berturut-turut setelah saya lahir ada adik saya Kiki dan Bobby. Yang terakhir agak ada jarak 5 tahun lahir adik saya yang ke lima, Dika.

Kami sejak kecil tinggal serumah, kecuali Mba Ivo yang sejak umur 1 tahun diasuh Budhe karena Budhe tidak punya anak tapi jarak rumah kami dengan rumah Budhe tidak jauh hanya terpisah beberapa rumah saja. Rumah kami berada di tengah gang sempit dan padat penduduk di pusat kota Semarang. Rumah tidak berbentuk rumah, dulu kami sering bilang begitu karena memang rumah kami juga berfungsi sebagai bengkel mobil. Menambah kesan kumuh dan kotor. Tapi bagaimanapun kami pernah dibesarkan dan dididik bersama disana.

Sekarang 4 dari 5 bersaudara sudah menikah dan tinggal di rumahnya masing-masing di Semarang, kecuali saya yang sejak tahun 2004 tinggal di Tangerang. Seiring kesibukan kami masing-masing dengan keluarga dan pekerjaan, semakin langka kesempatan dapat berkumpul bersama keluarga besar secara komplit. Momen lebaran kadang juga belum bisa mengumnpulkan kita semua. Kita bertemunya bergantian tidak dalam satu waktu. Terakhir kita berkumpul secara bersama-sama yaitu saat Bobby menikah, itu pun suasananya formal. Kangen masa-masa dimana kami  bercanda khas ala keluarga kami, bernyanyi, berjoget dangdut, sampai ejek-ejekan.

Karena hanya saya yang tinggal paling jauh, saya yang paling jarang bertemu mereka. Kadang berfikir setiap kali pulang mendapati Bapak dan Mama yang semakin sepuh. Rasanya baru kemarin mereka mengajak saya keliling naik motor dan saya masih naik di depan. Meski kami besar dengan segala keterbatasan tapi kasih sayang mereka tanpa batas. Semangat Bapak untuk terus menafkahi keluarga seorang diri meski beliau berjalan dengan bantuan tongkat membuat kami lebih kuat dan mandiri. Harapan Bapak agar kami menjadi orang yang sukses. Maafkan saya Pak, saya belum bisa membalas semua pengorbanan itu.

Baru saja saya telepon Mama di Semarang, kangen sudah agak terobati. Mama baru saja dari dokter karena batuknya tidak sembuh sembuh seminggu ini. Semoga cepat sembuh ya Ma. Saat saya telepon tadi tidak sempat ngobrol sama Bapak, kata Mama Bapak sedang memasang pagar besi di depan rumah. Ada langganan bengkel Bapak yang berbaik hati membelikan pagar besi. Jadi Bapak baru saja dapat pagar besi gratis. Alhamdulillah.

Ya Allah lindungi kedua orang tua dan semua keluargaku. Berikanlah senatiasa kesehatan. Limpahkankah berkahMu. RizkiMu. KemuliaanMu di dunia dan akhirat nanti. Ijinkan kami selalu menajadi keluarga yang utuh dalam kasih sayangMu.

I miss you all…I miss you so much…

2 thoughts on “Kangen Keluarga di Semarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s