Ibu Bekerja : antara Keluarga dan Pekerjaan

Bermain dengan anak
Bermain dengan anak

Memilih tetap bekerja setelah berkeluarga dan mempunyai anak adalah salah satu pilihan yang saya jalani, mungkin pilihan bagi banyak ibu lainnya juga. Konsekuensinya, banyak hal terutama yang menyangkut anak-anak dan perkembangannya harus lebih banyak diperhatikan. Anak-anak yang orang tuanya bekerja terutama ibu, seringkali menunjukkan sikap “protes” dengan caranya masing-masing demi mencari perhatian orangtuanya.

Sikap protes tersebut juga sering ditunjukkan oleh anak saya yang pertama (Tanisha, 28 bulan) dan yang masih bayi (kaira, 10 bulan). Mulai dari mengutarakan langsung, “Mama ngga usah kerja ya, mama di bobo aja ya sama Mba Nisha”, rewel saat mamanya mau bernagkat kerja, sampai maunya bobo terus sama mamanya. Sedangkan Kaira, karena masih bayi, kalau mamanya di rumah selalu mau sama mama.

Perasaan bersalah, sedih dan kangen rumah jadi sering muncul, terutama jika anak sakit. Yang ada di dalam pikiran adalah selalu ingin ada buat anak dan maunya resign dari tempat kerja yang sekarang.

Fenomena Ibu bekerja, jelas merupakan realitas yang nyata. Kecenderungan ini, menurut Daniel Amen, M.D., direktur medis The Center for Effective Living, seperti yang saya kutip dari http://www.jawaban.com, akan menimbulkan dampak sosial serius bagi anak, jika orangtua tidak memberikan penjelasan yang tepat alasan mereka bekerja. Psikiater anak, remaja, dan dewasa ini menyodorkan sepuluh tips untuk membesarkan anak secara sehat dalam keluarga dengan kedua orangtua bekerja: 

1. Waktu

Hubungan orangtua-anak yang baik memerlukan waktu yang memungkinkan mereka berkumpul secara fisik. Tidak perlu berjam-jam. Yang penting orangtua konsisten meluangkan waktu bersama anak-anak hampir setiap hari. Ketika bersama mereka, jauhkan gangguan dan konsentrasikan perhatian pada mereka. Waktu adalah tonggak penyangga pengasuhan yang baik. 

2. Jadilah pendengar yang baik

Bila anak mengetahui bahwa kita benar-benar mendengarkan apa yang mereka katakan, mereka akan lebih bersemangat untuk berbagi perasaan dan pikiran. Sebaliknya, kalau orangtua merendahkan gagasan anaknya atau ‘rajin’ mengkritik kata-kata atau perilakunya, anak akan menarik diri dan memilih lebih dekat kepada teman. Karenanya, jika ingin memiliki pengaruh dalam kehidupan anak, jadilah pendengar yang baik. Mereka akan menerima bila kita membantu mereka memecahkan masalah. 

3. Tentukan harapan yang jelas

Memberitahukan anak apa yang kita harapkan darinya akan membentuk perilaku yang baik. Jangan ragu-ragu melibatkan mereka dalam pekerjaan sehari-hari dan untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas di lingkungan rumah. Kebanyakan anak pasti akan mengeluh. Namun kita harus berusaha agar mereka senang dilibatkan. Anak yang berperan serta dalam urusan rumah tangga, akan punya etika kerja dan umumnya lebih merasa menjadi bagian dari keluarga.

 4. Jangan membiarkan rasa bersalah

Banyak orangtua merasa bersalah karena bekerja seharian di luar rumah. Sebagai kompensasinya, mereka membiarkan anak berperilaku buruk dan tidak disiplin. Orangtua yang baik adalah yang tegas. Merasa bersalah merupakan tindakan kontraproduktif.  

5. Jangan gantikan kasih sayang atau waktu dengan uang

Memang penting mengajari anak bagaimana mengelola uang. Tapi jangan gunakan uang sebagai pengganti waktu atau kasih sayang kita. Pesan iklan di tv mudah sekali merasuki anak dan membangkitkan keinginan mereka untuk membeli ini dan itu. Agar kita dapat membentengi anak dari pengaruh buruk itu, kita buat mereka untuk selalu berusaha dulu bila ingin memperoleh sesuatu. Sesuatu yang diperoleh melalui bekerja akan lebih terasa nilainya. 

6. Jangan gonta-ganti pengasuh

Satu dari kebutuhan psikologis anak yang penting adalah, ia terasuh dengan baik dan penuh kasih secara terus-menerus. Karena itu kita memerlukan pengasuh. Dengan menggunakan pengasuh kecemasan kita akan berkurang selama kita bekerja. Berikan kesempatan untuk terciptanya keakraban dan kedekatan antara anak dan pengasuh. Sering gonta-ganti pengasuh dapat membahayakan anak.

7. Kuncinya: pengawasan

Seringkali, saat ditinggalkan orangtua, anak terjerumus dalam masalah. Penelitian menunjukkan, anak-anak bermasalah sering berasal dari keluarga yang kurang atau tidak mengawasi. Anak tidak begitu saja tahu sejak lahir, mana perilaku baik, mana yang buruk. Mereka perlu diajari dan kemudian diawasi. Sangat penting bagi orangtua mengetahui di mana anaknya, sedang bersama siapa, dan sedang berbuat apa. Memang, anak sering mengeluh kalau ia diawasi ketat. Tetapi anak-anak yang tidak diawasi juga dapat merasa orangtua tidak peduli dengan mereka!

 8. Beri perhatian lebih saat ia baik

Ini bagian paling berat bagi orangtua. Kita cenderung lebih memperhatikan anak-anak ketika mereka menjengkelkan. Sebaliknya, lebih sulit memperhatikan perilaku baik mereka. Namun jika ingin anak berperilaku baik, beri perhatian pada hal-hal yang kita sukai dari mereka. Kalau anak merasa diabaikan, secara bawah sadar ia akan berperilaku salah untuk menarik perhatian kita.

9. Hukuman itu untuk mendidik

Orangtua yang bekerja di luar rumah cenderung mengalami kelelahan dan mudah jengkel. Mereka lebih mudah kehilangan kontrol terhadap anak. Ini dapat menimbulkan masalah. Jangan pernah menghukum anak ketika kita sendiri tidak dapat mengontrol diri. Gunakan hukuman untuk mendidik, bukan untuk melampiaskan kemarahan.

10. Berikan teladan dalam relasi

Anak belajar berelasi dari orangtua mereka. Mereka juga merasa paling aman jika melihat orangtua saling memperlakukan pasangannya dengan baik. Jadi, hal terbaik yang dapat dilakukan bagi anak-anak adalah mencintai pasangan kita.

Dan artikel yang ada di koran Kompas, 31 Juli 2007, yang sempat ditulis di salah satu web keluarga juga, memberikan tips apa saja yang bisa dilakukan bagi seorang ibu yang bekerja agar tetap dekat dengan anak, antara lain :

1. Sempatkan memandikan anak di pagi hari sebelum berangkat kerja. Selain menjalin kedekatan, anakpun akan terbiasa bangun pagi sedari balita.

2. Bila jarak kantor tidak terlalu jauh dan masih ada waktu luang, ada baiknya jika Anda membiasakan sarapan bersama di meja makan. Dengan begitu, Anda masih sempat menyuapi dan bercengkrama dengan balita di rumah.

3. Di sela-sela waktu luang di kantor, cobalah sesekali menelponnya di rumah. Walaupun ia masih menggunakan bahasa bayi, setidaknya dapat bercakap-cakap dan membuatnya mengenali suara Anda. Disamping itu, Anda pun bisa memantau keadaannya di rumah.

4. Sepulang kerja, cobalah untuk sekadar menggendong atau mengajaknya bermain. Jangan pernah gengsi bertingkah manja atau berakting sebagai teman bermainnya. Biasanya anak-anak lebih suka pada orang tua yang mau mernahami dunia mereka.

5. Jangan pernah pelit memberi pujian pada anak yang telah bertingkah baik. Terlalu banyak larangan, malah membuat mereka tidak lagi bisa membedakan mana yang berbahaya dan mana yang tidak disukai oleh orang tuanya.

6. Mengantarnya tidur sambil membacakan dongeng merupakan proses pendekatan yang paling disukai anak. Selain itu, mendongengkan anak juga berperan dalam proses perkembangan kognitif anak, terutama daya imajinasinya.

7. Jika sampai di rumah sudah terlalu larut, sempatkan mampir ke kamarnya untuk sekadar memeluk dan menciumnya.

8. Di akhir minggu, sekadar mengantar sekolah dan menungguinya selama beberapa saat akan membuat anak merasa bangga dan lebih dekat dengan orang tuanya.

9: Bersama-sama melakukan permainan yang disukai anak seperti bersepeda, berenang, bermain pistol air, atau sekadar bersenda gurau akan meningkatkan keintiman orang tua dan anak.

Kalau boleh memilih, bisa sukses di keluarga dan karir juga hehe ^o^ amien…

6 thoughts on “Ibu Bekerja : antara Keluarga dan Pekerjaan

  1. hikksss…

    Sama mbak, saya juga menghadapi dilema yang sama…

    Tapi yah, yg penting dijalani saja semua dengan baik. Prioritas utama tetep keluarga…meski tetap total juga dalam kerjaan… fiuuhhhh…gak gampang deh…tp asal dijalani dengan sukacita the everything will be just fine… amiieeennn…

    Btw, tks ya mbak buat kutipan tipsnya di sini..

  2. Iya Mom, wanita memang dituntut untuk jadi SUPER WOMEN. Tapi yang pasti kita harus berusaha sebaik mungkin.
    Harapannya pasti bisa sukses semuanya..amien..

    Tetep semangat!!!..😀 hehehe

  3. Andaikan aja ya mbak semuanya bisa dengan mudah dilakoni…. Tapi memang ga gampang mba untuk menyeimbangkan karier dan keluarga.. Tapi naudzubillah, jangan sampai deh hanya kar’na karier kita kesampingkan keluarga… Apalagi wanita, peranan mereka itu udah ada pagarnya dari jaman Hawa… Jadi, wanita is wanita, meskipun seorang karier woman, tapi ia juga menjadi seorang penentu kesuksesan generasi muda berikutnya…

    1. Salam kenal Mba Pipit🙂
      Iya Mba, semoga kita yang sebagai ibu bekerja bisa membagi waktu dan perhatian dengan baik. Semoga dengan pekerjaan kita di luar rumah juga bisa meberikan timbal balik yang positif kepada keluarga kita.

  4. Saya mau komplain tentang cara mengasuh bayi yang dilakukan ibu-ibu masa kini. dimulai dari cara melahirkan yang lebih memilih cesar daripada normal, alasannya sakit & tidak mau repot mengatur berat badan dan ikut senam hamil. takdir perempuan itu merasakan sakitnya persalinan, kenapa lebih memilih perutnya dibelah pakai obat bius. setelah lahir, bayi tersebut duluan meminum susu formula, tidak ada usaha sedikitpun untuk mengeluarkan ASI yang jelas-jelas sangat dibutuhkan bayi tersebut, sebentar lagi botol bayi akan jadi ibu bagi bayi-bayi yang dilahirkan jaman sekarang. berikutnya tentang pengasuhan bayi yang ditelantarkan oleh ibu pekerja, itulah kenapa saya menolak pendapat tentang menikah muda, pikirkan sebelum menikah apakah keuangan sudah cukup untuk berkeluarga dan punya anak, jangan nafsu saja didahulukan dengan alasan tidak mau berbuat dosa. Sebenarnya pihak laki-laki saja yang harusnya bekerja, sedangkan ibu tinggal di rumah mengasuh bayi/anak. Saya tidak habis pikir ada ibu yang merelakan anaknya bersama pengasuh yang mungkin berpendapat bukan anak saya. Peran ibu sebagai orangtua yang harusnya berada di samping bayinya tidak saya temukan dalam masa sekarang ini, semuanya memakai pengasuh yang kalau bayi jatuh ataupun menelan benda logam pengasuh itu mungkin hanya akan menonton sinetron pavoritnya daripada memperhatikan asuhannya/bayi. atau pengasuh itu mungkin akan memaksa bayi itu untuk tidur di ayunan sekeras-kerasnya agar pengasuh ini bisa menikmati sinetron atau tidur mungkin karena begadang semalam. Saya sampai sekarang tidak masuk akal memberikan bayi/anak kepada pengasuh. apapun alasannya, kecuali ibu bayi itu sudah meninggal itupun harusnya bapak bayi itu menggantikan tugasnya atau memberikannya kepada keluarga dekat. Saya juga heran dengan ibu-ibu sekarang yang lebih memikirkan cara instan dengan memakai pampers kepada bayinya, sungguh hancurkan orangtua jaman sekarang yang tidak mengajari anak-anak gadisnya sebelum menikah bagaimana nanti jika punya bayi. Saya perhatikan iritasi karena urin & kotoran menempel di tubuh bayi karena pampers bukan hal luar biasa, semua biasa karena ada salep kulit kata ibunya. Coba bayangkan dari jam 7 pagi sampai jam 9 malam bayi ditangan pengasuh, mau dibawa kemana peran ibu jaman sekarang ini. Banyak hal yang ingin saya protes kepada ibu-ibu muda jaman sekarang ini, apalagi ini jaman BBM, Facebook, mungkin ibu-ibu muda jaman sekarang ini lebih baik membalas BBM ataupun menjawab comment facebook, daripada menganti celana bayinya yang baru saja terkena urin. atau pampers adalah jawabannya. celakanya waktu bersama bayi/anaknya hilang hanya untuk mengejar beberapa lembar uang, harusnya sebelum menikah semua harus dipersiapkan jangan mengorbankan bayi/anak. syukurnya calon istri saya orangnya mandiri, saya kasihan lihat orangtua yang mengorbankan anak/bayinya ditangan pengasuh, sedangkan ibunya sibuk mencari uang sampai manakah kekayaan itu dicari tidak cukupkah suami bekerja, kuncinya sebelum menikah persiapkanlah semuanya. terima kasih.

    1. Sebelumnya terima kasih banyak sharingnya Pak.
      Sebagian besar saya setuju dengan yg Bapak sampaikan di atas.
      Saat ini Putri saya sudah 3, yg pertama lahir secara sesar karena 1 minggu setelah pembukaan tp tetap pembukaan tidak maju dan berbagai pertimbangan medis yg mengharuskan saya memilih sesar. Anak kedua yg bedanya hanya setahun lebih setelah sesar saya lahirkan secara normal dg berat 4 Kg, meskipun banyak dokter menolak menangani saya untuk normal karena beresiko tinggi tapi saya tetap mengusahakan semampu saya untuk melahirkan normal, alhamdulillah bisa terwujud. Dan anak ketiga, sampai kehamilan sudah melebihi umur saya tidak ada pembukaan dan mules sebagai syarat mutlak jika mau melahirkan normal. Tapi saya tetap mengusahakan normal dengan induksi. Selama 3 hari diinduksi tetap tidak ada respon. Dan sekali lagi dg banyak pertimbangan medis saya tetap harus melahirkan dg sesar. Jd tentang proses melahirkan buat saya sesar adalah pilihan terakhir untuk tetap menjaga keselamatan ibu dan anak.
      Untuk ASI, itu adalah hak anak, saya yakin semua ibu pasti berusaha semaksimal mungkin memberikan nya untuk anak. Di bulan ketiga umur anak saya, karena mulai bekerja saya perah ASI.
      Bekerja buat saya adalah pilihan yg sangat berat yg harus saya jalani saat ini.
      Idealnya memang seperti yg Bapak sampaikan. Sungguh bahagia buat saya jika keadaan yg ideal itu terjadi pada saya.
      Tapi, banyak hal juga yg terjadi di luar yg kita inginkan. Pilihan yg terbaik harus dipilih diantara yg tidak baik.
      Bukan berarti suami saya tidak mengusahakan sebaik2nya untuk keluarga saya. Beliau adalah suami hebat dan Ayah luar biasa di keluarga kami.
      Tapi, bagaimana jika yg terjadi tidak seperti yg diinginkan.
      Banyak factor yg melatarbelakangi saya untuk tetap bekerja. Bukan berarti ini pilihan saya karena ego untuk mengejar kekayaan. Banyak sekali pertimbangan di keluarga kami yang tidak perlu kami ceritakan yang pada akhir nya membuat saya tetap menjalani pekerjaan saya.
      Sebelum bekerja saya harus masak dan menyiapkan ke perluan sekolah anak-anak dan berangkat kerja setelah anak dijemput mobil sekolah. Menemani balita saya bermain dan jalan2 pagi sambil belajar sayur. Saat di kantor sebisa mungkin saya berkomunikasi dg anak2 dan pengasuh di rumah. Sepulang kerja saya harus bermain dg anak2 sambil mengecek tugas2 sekolah dan perkembangan anak2 di sekolah. Sampai sebelum tidur mereka saya harus dan wajib baca dongeng pengantar tidur mereka.
      Jika harus memilih dan ada pilihan untuk saya sepenuhnya ada di rumah bersama mereka, itu adalah mimpi saya.
      Menjalani peran ibu yg juga bekerja tetap membuat saya dihantui rasa bersalah. Tapi sekali lagi saat ini itu masih menjadi pilihan terbaik di keluarga kami. Tidak semua orang bisa seberuntung Bapak. Memang semua tergantung pilihan kita jg dan bagaimana kita menjalani dan menyikapi pilihan itu.
      Sekali lagi terima kasih sharing nya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s