Jujur saya bingung. Mungkin juga sedih. Dengan menulis disini mungkin akan sedikit membantu, minimal bisa me-release apa yang sedang saya rasakan tentang anak sulung saya ini, Tanisha. Yah, akhir-akhir ini memang rasanya ngga sempat terus mau ngeblog, paling-paling cuma sempet intip-intip sebentar ke blog temen-temen. Selain kondisi keehatan orang serumah lagi pada ngga fit, kerjaan juga lagi menuntut konsentrasi. Ditambah lagi sekarang sudah sering hujan. Sampai rumah berbasah-basah ria. Belum lagi kalau motor mesti mogok kena banjir di tengah hujan gedhe.
Okay, kembali ke Tanisha. Bulan ini usianya sudah 4 tahun 5 bulan. Sudah besar anak mama ini. Sudah lebih kritis. Sering protes. Dan puncak kesedihan saya, Tanisha jadi sering marah-marah. Jika begitu, semuanya jadi serba salah di matanya. Saat marah, dia ngga lagi terlihat seperti anak-anak yang baru duduk di TK A. Ucapannya begitu lantang, cepat dan jelas tapi betul-betul membuat saya sesak nafas.
Saya sadar, sebenarnya dia butuh perhatian dan waktu lebih lama dari saya dan ayahnya. Saya sadar saya yang salah sudah begitu keras. Saya tahu bahwa saya orang yang juga gampang terpancing emosi. Seringkali dia marah dan saya jadi lebih marah. Astagfirullahaladzim.
Percakapan suatu pagi antara saya dan Mba Nisha :
“Mama hari ini masuk?”
“Masuk Nak, ada apa?”
“Ngga bisa libur dulu? Mba Nisha mau sama mama”
“Maaf, ngga bisa. Mama harus buat laporan ke bos Mama”
“Pulangnya jam berapa?”
“Ya seperti biasa habis magrib Mama insyaallah sudah di rumah”.
“Ngga bisa pulang cepet?”
“Ngga bisa sayang, tapi Mama usahakan ya.”
“Jangan telat ya ma!Janji.”
“Iya sayang”.
Tapi hari itu kerjaan saya sampai malam dan sampai rumah hampir jam 9 malam.
“Mama bo ong!!!Katanya ngga telat? Udah jam berapa ini?Lihat jamnya! Lihat Ma! Mama bisa denger Mba Nisha ngomong kan?Coba telinga mama dibuka, mata Mama lihat jam.Lihat! Mama bo ong. Mama ngga sayang Mba Nisha”
Saya yang baru saja sampai di rumah rasanya shock, sesak nafas dan ingin menangis. Putri kecilku sedang begitu marahnya sama mamanya. Bicaranya sangat jelas. Jelas sekali. Jelas juga sedang menggambarkan emosi hatinya.
Begitu juga protesnya kepada Ayahnya. Apalagi Ayah setelah pindah kerja harus banyak adaptasi jadi lebih banyak pulang malam dan lembur.
Lanjut membaca →