Tetralogy Parenting Seminar Sesi 1 – Tantangan Mendidik Anak di Era Digital

Tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua. Banyak orang bilang sih begitu. Pelajaran menjadi orang tua itu kebanyakan diambil dari pengalaman yang turun menurun. Tapi apakah itu cukup? Anak kita tidak lahir di jaman kita apalagi jaman kakek neneknya dulu. Ditambah perkembangan teknologi dan informasi yang yang demikian cepat. Ibarat kita baru melangkah perkembangan dunia di sekitar kita berlari sprint di depan. Buka mata, buka telinga dan tetep mau belajar.

Awal bulan ini, tepatnya di tanggal 1 kemarin (eit sudah dua minggu lalu ternyata), saya ikut parenting seminar. Seminar ini adalah session pertama dari Tetralogy Parenting Seminar yang dipersembahkan oleh @supermomsid dengan pembicara Ibu Ellly Risman Psi di JDC – Slipi, Jakarta. Terima kasih ya buat Mommy Athia, jeng Indah Kurniawati yang udah ngasi info seminar ini. Oiya di seminar kemarin itu adalah pertama kali saya ketemu sama jeng Indah. Tapi karena si ibu cantik ini waktu itu termasuk salah satu seksi sibuknya, ngga sempat ngobrol banyak deh. Dan ringkasan seminar session 1 tentang Tantangan Mendidik Anak di Era Digital, saya kayanya ngga perlu susah-susah bikin lagi karena sudah dibuat juga sama Jeng Indah (padahal aku emang ngga bisa bikin ringkasan sebagus itu hehehe). Ijin share ringkasannya ya Mom, pasti bermanfaat banget buat ortu yang lain yang belum pernah dapet informasi itu atau mungkin mengingatkan kembali ke kita semua sebagai ortu. Ringkasannya bisa disimak di sini.

Pada seminar tersebut, dari awal sampai akhir apa yang disampaikan Ibu Elly membuat saya harus benar-benar waspada tingkat tinggi terhadap segala bentuk teknologi dan informasi yang ada. Membuat saya menangis ketakutan (dari awal sampai akhir kejer pegang tissue terus, hiks), jangan-jangan saya termasuk orang tua yang secara tidak sadar malah merusak anak sendiri atau membahayakan mereka. Naudzubilahibindzalik. Ya Allah, ampunilah hamba dan lindungi anak-anak hambamu ini.

Fakta-fakta yang disampaikan Ibu Elly tentang begitu banyak kasus perdagangan anak, pornografi, kekerasan dan kerusakan otak anak, semua bisa berasal dari rumah dan lingkungan terdekat anak. Tentang pornografi, ternyata anak-anak kita bisa dengan mudah mengaksesnya, antara lain :

-          Situs Internet. Bisa diakses dimana saja, di rumah, warnet bahkan yang paling mudah di HP.

-          Games. Seringkali kita tidak perduli tentang apa games tersebut sesuai dengan umur anak kita, apa isinya , apa manfaatnya, apa dampaknya dan apa sudah perlu anak kita memainkan games tersebut. Banyak games yang ternyata sarat dengan kekerasan dan diselipi pornografi.

-          Bioskop. Hampir semua film superhero juga ada adegan kekerasan dan adegan syur. Apalagi film lokal yang isinya setan dan hantu-hantuan, dan film remaja yang benar-benar tidak mendidik bahkan bisa membuat degradasi moral.

-          Sinetron. Apa yang bisa kita dapat dari tontotan sinetron di saluran tv kita? Siang malam anak-anak kita disuguhi dengan adegan cinta-cintaan dan cerita yang tidak mendidik, meskipun sinetron tersebut diperankan oleh anak-anak juga.

-          VCD/DVD. Film-film dari VCD/DVD mudah sekali didapat dan anak-anak bisa dengan mudah juga mendapatkannya meskipun berisi film-film yang tidka sesuai umurnya. Dari covernya saja anak-anak bisa penasaran melihat isinya. Bahkan film kartun sekalipun bukan berarti itu tontonan untuk anak-anak.

-          Komik. Seringkali kita tidak bisa membedakan mana komik untk dewasa, remaja dan anak-anak. Bahkan sama dengan film, komik yang berlabel anak-anak dan remaja juga banyak diselipi gambar yang berbau pornografi dan kekerasan. Lihat saja kalau kita ke toko buku, anak-anak bisa dengan mudah membaca komik meskipun berlabel dewasa karena letaknya biasanya berjejeran, malah ada yang campur dalam satu rak.

-          Iklan. Banyak iklan yang tentang produk apa tapi adegannya malah menjurus ke syur atau dengan kata-kata atau foto yang tidak mendidik. BUkan hanya di tv loh, kita bisa lihat di jalan, mall, dll.

-          HP. Bisa dari HP ortu, saudara, teman, sopir atau malah HP yang dikasi ke anak sama ortunya sendiri.

Lalu apa yang harus kita lakukan?

-          Kuasai cara berinternet

-          Cek riwayat koneksinya

-          Berteman baik dengan anak

-          Ikuti perkembangannya (kenali  juga teman-temannya)

-          Ajak anak bijak berinternet

-          Diskusi dengan anak (jangan sampai anak mendapatkan informasi yang salah atau dari sumber yang salah)

-          Arahkan

-          Kontrol

-          Untuk games : kenali games, tanya games yang biasa dimainkan anak, dimana dia memainkan, dari siapa mendapatkannya, diskusikan tentang dampaknya.

-          Untuk komik : jangan  beli komik sembarangan, lihat isinya, periksa tempat barang anak (rak buku, tempat tidur, lemari, tas sekolah), ajarkan berbagai jenis bacaan yang mendidik (science, petualan, dongeng, kisah nabi)

-          Untuk HP. Sebaiknya tidak memberikan HP pribadi kepada anak, tidak menyimpan konten-konten berbau pornografi dan kekerasan di dalam HP ortu, tidak sembarangan meminjamkan HP ke anak (apalagi yang suka bbm-an di group).

-          Untuk Film/Tv: pilih program yang sesuai untuk anak, atur jam hidup tv, damping saat nonton (bagi yang berlangganan tv cable, lebih berhati hati lagi memilih program tayangan),

-          Untuk bioskop : dipertimbangkan perlu/tidak perlu mengajak anak ke bioskop, sadar dengan iklan sebelum dan sesudah film berlangsung.

Dalam pola pengasuhan anak, berikut 8 hal yang membantu anak :

  1. Jangan focus pada aspek akademis semata. Pendidakan akhlak juga harus menjadi prioritas utama.
  2. Aktif menggunakan teknologi media. Jangan gaptek-gaptek amatlah sebagai ortu.
  3. Komunikasi dan disiplin yang berbeda. Berdasarkan cinta dan kasih sayang.
  4. Perkuat iman anak. Bicarakan tentang pentingnya memelihara kesucian sampai menikah.
  5. Kemampuan berpikir kritis.
  6. Konsep harga diri yang baik.
  7. Mandiri dan bertanggung jawab.
  8. Doa.

Sebagai orang tua, tujuan kita dalam mengasuh anak juga harus jelas. Sebaiknya sudah mengkomunikasikan pengasuhan anak yang sejalan antara suami dan istri dengan menjadikan anak-anak yang saleh/salehah menjadi prioritas utamanya. Dan untuk anak-anak kita, jangan sampai kita menjadikan anak-anak kita merasa berayah ada ayah tiada, beribu ada ibu tiada. Setelah Bu Elly mengakhiri pemaparannya, seorang peserta seminar di sebelah saya langsung bilang,” Udah resign kerja aja dan focus ngasuh anak-anak. Bener deh, awalnya memang berat, tapi sepadan kok ama apa yang kita dapet demi anak-anak”. DEG. Dalam hati, pengen sih..tapi “blablabla” hiks

Pulang seminar dijemput suami tercinta (berangkatnya juga dianter sih, tapi sayang suami ga bisa ikutan seminarnya), disepanjang jalan saya sharing tentang seminar tersebut. Sebagi orang tua pasti kita menginginkan yang terbaik untuk anak-anak, dengan menjadi orang tua yang baik dan bijak serta benar-benar “ada” buat mereka . Meski saya dan suami sama-sama bekerja, tantangan berat memang, tapi insyaallah semoga kita bisa megemban amanah Allah untuk menjaga titipanNya dengan baik. Demi anak-anakku tercinta Tanisha, Kaira dan baby yang masih dalam perut, demi kalian semoga Mama dan Ayah semoga bisa menjadi orang tua yang amanah. Amin. (mewek lagi deh).

Tetralogy parenting seminar session berikutnya semoga bisa ikut dan bisa banyak belajar lagi.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s