Buku Tentang Imunisasi

Seminggu yang lalu ada teman yang meminjami saya buku tentang imunisasi, judulnya Imunisasi, Dampak & Konspirasi; Solusi Sehat ala Rasulallah SAW, yang ditulis oleh Hj. Ummu Salamah, SH., Hajjam.  Mengingat kedua anak-anak saya masih mendapatkan jadual imunisasi dari dokter, saya jadi tertarik.  Buku tersebut memaparkan cukup detail tentang imunisasi atau sering disebut juga vaksinasi, mengulas dari sejarah, tata cara pembuatan, kandungan, dampak, keamanan, status kehalalan, kepentingan di balik program imunisasi sampai pemaparan data korban dampak buruk vaksin-vaksin yang ada saat ini. Semua yang ditulis juga diulas dari sudut pandang Islami.

ini lho cover bukunya :)

ini lho cover bukunya :)

 

 

Buku tersebut memang memberikan banyak sekali informasi tentang imunisasi. Tetapi, saya sekaligus ngeri saat membacanya terutama pada bagian kandungan dan dampak buruknya bagi kesehatan terutama anak-anak. Apalagi saat itu saya membacanya disamping kedua anak-anak saya yang sedang tertidur pulas. Saya panjatkan doa sebanyak-banyaknya memohon agar Allah senantiasa menjaga dan memberikan kesehatan bagi keduanya.

Setelah sempat berdiskusi dengan suami, saya merasa sedikit tenang. Saya tidak boleh terpaku dari satu sumber saja, maka saya mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang imunisasi. Saya juga menanyakan ke beberapa teman yang tinggal di negara lain. Dari informasi-informasi tersebut saya berharap bisa melakukan yang terbaik untuk anak-anak saya. Kalau pun saya tetap menjalani jadual imunisasi dari dokter saya tidak ragu atau was-was. Menjadi lebih berhati-hati dalam memilih jenis vaccine.  Terus berdoa agar bisa memberikan investasi kesehatan yang terbaik untuk kedua buah hati saya.

Buat temen-temen semua yang mempunyai informasi seputar ini, mungkin juga pengalaman atau pun yang ingin menanggapi saya sangat berterima kasih. Apabila berkesempatan nanti akan saya  tulis di blog ini beberapa ulasan yang ada di buku yang ditulis Hj. Ummu Salamah, SH., Hajjam tersebut. Semoga bermanfaat.

Berikut adalah beberapa ulasannya (iscan aja ya, ditulis lama hehehe) :

Sejarah Vaksinasi : hal 12-13

Sejarah Vaksinasi : hal 12-13

hal 14-15

hal 14-15

hal. 16-7

hal. 16-17

About these ads

52 thoughts on “Buku Tentang Imunisasi

  1. menurut saya, buku tersebut sangatlah luar biasa. Karena, fakta yang terjadi sekarang ini memang vaksinasi berbahaya. Banyak tetangga dan teman saya yang keluarganya mengalami kejadian buruk setelah vaksinasi.

    Kenapa buku Hj.Ummu Salamah SH. Hajjam menjadi luar biasa karena ada solusi tuntas nya.

    oya, beli dong jangan minjam, hehe :) :D

  2. Saya dengar ibu Hj.Ummu Salamah, SH, Hajjam di undang untuk acara bedah buku Imunisasi,Dampak, Konspirasi gak lama lagi di Jakarta.

    hari Selasa tanggal 21 April 2009
    Pukul : 9.00 sd 12.00
    Acara : Bedah buku dan tanya jawab
    Jl. Pedati Raya No 1 Jati Negara. Gedung Wihdatul Muslimah
    Jati Negara. Jakarta

    yang masih penasaran … silahkan hadir ya…salam…

  3. Hi Karen salam kenal (panggil Karen saja ya biar lebih akrab :) )
    iya buku yang bagus dan berani :) saya jadi lebih berhati-hati lagi nih

    wah kejadian buruk apa ya kalau boleh tau? habis vaccine apa trus jd gmn?

    alhamdulillah di keluarga saya, teman dan kerabat tidak ada masalah (saya harap tidak akan pernah ada masalah)
    Kl ada info lg ya. Terima kasih sharingnya.

    btw saya ngga minjam koq tp dipinjami:p hehehe..

  4. Salam kenal juga :D , Oya kejadian buruknya ada anak teman saya stelah disuntik BCG malamnya panas dan kejang-kejang. Setelah di bawa ke rumah sakit. Katanya, ada virus di otaknya, sebulan kemudian anknya meninggal. Sedih ya, hiks :'(

  5. oya, masih ada juga yang autis, di vaksin cacar malah terkena cacar, tantenya teman saya juga meninggal sehari setelah di vaksin meningitis (untuk naik haji)
    sungguh menyeramkannya dampak vaksin. :((

  6. Ya Allah, turut berduka ya, kasihan banget.
    makasi ya infonya.
    Tapi masalah itu sempat diteliti ngga?

    Dilema juga menurut saya, karena di Indonesia sndr byk penyakit di sekitar kita yang kdg kita ngga tau, misal TB, byk orang mengidap TB yang tidak melakukan pengobatan rutin dan menjalani karantina, daripada beresiko, jd banyak yang memilih untuk melakukan vaccinasi.

  7. ikutan dong… menurut saya TB, polio, autis dll itu sebenarnya tidak akan ada, kalau makanan alami yang halalan toyiban sudah di konsumsi tubuh manusia.

    Allah ciptakan virus yang berterbangan di udara, berjuta-juta bermilyar-milyar. Tapi bila tentara-tentara alami di dalam tubuh kita kuat, maka mampu untuk menghalau penyakit dari tubuh.

    Jadi untuk membuat tubuh manusia itu kuat, bukan di vaksin dengan barang haram lagi beracun, seperti vaksin/imunisasi sekarang ini. Tapi tubuh itu harus di suplay makanan yang sehat agar tentara kita jadi kuat, agar Dokter dalam tubuh kita benar-benar dapat bekerja dengan baik.

    Untuk menambah kazanah tentang kesehatan, coba cari buku Deadly Mist karangan Jerry de Gray, tentang politik kejahatan kedokteran westrn ia ungkapkan bagaimana kejahatan di dunia kedokteran, dan buku Jangan kedokter lagi, karangan dr Tauhid nur Azhar. Pasti Rully tercengang akan kondisi yang terjadi sekarang ini. Biasanya di Gunung Agung ada tuh.. buku Jerry de Gray.

    • Hi, ini Karen kan ya?
      oh gt ya, waduh saya kok jd tambah takut ya?
      Sabtu ini adalah jadwal imunisasi ulangan DPT,Polio n Hib yang ke-3, sebaiknya saya harus gmn ya? berhenti saja gt? ada efeknya ngga ya krn sblmnya itu sudah 2x

      Info bukunya makasi ya, ntar insyaallah saya cari.

      Sekali lagi thanks a lot n jangan bosen mampir ya :)

  8. MUI: Vaksin Meningitis Mengandung Enzim Babi

    LPPOM MUI Sumatra Selatan menemukan fakta vaksin meningitis mengandung enzim porchin dari babi.

    PALEMBANG — Majelis Ulama Indonesia Sumatra Selatan (MUI Sumsel) mengingatkan pemerintah untuk mengganti vaksin meningitis (radang selaput otak) yang biasa digunakan untuk jamaah haji dan umrah. Pasalnya, vaksin meningitis itu mengandung enzim porchin yang berasal dari babi.

    Ketua MUI Sumsel, KH Sodikun, menegaskan, kandungan enzim babi dalam vaksin meningitis terungkap setelah Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) di provinsi itu melakukan penelitian dengan melibatkan pakar dari Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri).

    ”MUI Sumsel melakukan penelitian tersebut, setelah tiga bulan lalu mendapat laporan tentang adanya kandungan enzim babi dalam vaksin meningitis,” ungkap Kiai Sodikun kepada Republika, Jumat (24/4). Setelah mendapat laporan itu, papar dia, LPPOM MUI yang dipimpin langsung ketuanya, Prof Nasruddin Iljas, melakukan penelitian dengan melibatkan pakar dari Unsri, salah satunya, Prof T Kamaludin, direktur Program Pascasarjana Unsri.

    Berdasarkan hasil penelitian itu, vaksin meningitis yang biasa digunakan jamaah haji dan umrah mengandung enzim babi. Kiai Sodikun mengaku sudah menyampaikan temuan itu kepada pemerintah dan MUI Pusat untuk ditindaklanjuti. ”Kami meminta pemerintah segera mengganti vaksin yang digunakan sekarang dengan vaksin yang halal dan bebas darin enzim babi yang haram itu,” ujar Kiai Sodikun menegaskan.

    Sampai sekarang, kata dia, permintaan MUI Sulsel itu tidak mendapat tanggapan. ”Melalui informasi yang kami sampaikan lewat media massa, MUI Sumsel berharap Menteri Agama segera tanggap,” tuturnya. Pihaknya mengingatkan, penggunaan vaksin meningitis yang mengandung enzim babi dapat menghalangi kemabruran jamaah haji.

    Menurut Kiai Sodikun, masuknya zat haram dalam tubuh akan sangat berpengaruh pada proses pelaksanaan ibadah haji. Alasannya, kata dia, syarat mabrurnya haji, selain bersih secara jiwa, para jamaah haji juga harus bersih secara raga.
    ”Kalau tubuh kita kemasukan zat yang diharamkan, maka dapat menghalangi terkabulnya doa. Tapi, bagi mereka yang tidak tahu bisa dimaafkan, yang berdosa adalah orang yang mengambil kebijakan dan mengetahui hal itu tapi tetap melaksanakan,” ujar Kiai Sodikun mengingatkan.

    Ketua LPPOM MUI Sumsel, Prof Nasruddin Iljas, juga mendesak agar pemerintah segera mengganti vaksin meningitis yang biasa digunakan dengan vaksin yang halal. Menurut dia, negara lain seperti Malaysia telah menggunakan vaksin meningitis yang halal dengan menggunakan enzim sapi.

    ”Jadi, sudah seharusnya pemerintah pusat, khususnya Departemen Agama, segera mencari alternatif pengganti vaksin meningitis yang tidak mengandung binatang babi,” cetusnya. Nasruddin mengatakan, jika produk makanan, obat-obatan, serta kosmetik mengandung bahan yang tidak halal, maka akan menghambat bahkan menyebabkan ibadah umat Islam sia-sia. ”Ini harus menjadi perhatian. Apalagi sekarang marak beredar makanan yang berasal dari daging babi,” tambahnya.

    Indonesia tampaknya harus belajar kepada Malaysia. Sejak beberapa tahun lalu, Malaysia telah berupaya memproduksi vaksin meningitis halal yang pertama di dunia. Pembuatan vaksin halal itu diperkenalkan Universitas Sains Malaysia (USM). Vaksin meningitis hahal itu akan membawa manfaat bagi jutaan orang terutama yang melakukan ibadah haji.

    Untuk memproduksi vaksin meningitis, USM bekerja sama dengan Institut Finlay di Kuba. Malaysia dan Kuba bersama-sama akan menanggung biaya produksi vaksin itu dalam proyek senilai 6 juta ringgit Malaysia. Sebayak 12 orang ahli kedokteran dari USM dan 30 orang ahli dari institut Finlay Kuba akan berkerja sama memproduksi vaksin tersebut yang terbuat dari bahan-bahan dasar yang halal yang diambil dari hewan yang disembelih sesuai dengan aturan Islam.

    Langkah itu dilakukan Malaysia guna menghentikan penggunaan vaksin meningitis impor dari negara-negara Barat yang menggunakan bahan dasar dari sari pati hewan babi–binatang yang haram menurut ketentuan Islam. Selama ini, negara-negara Muslim bergantung sepenuhnya kepada vaksin nonhalal, guna memenuhi kebutuhan yang disyaratkan oleh Pemerintah Arab Saudi untuk para calon haji yang akan melakukan ibadah haji maupun umrah. oed/hri :))

    • Hi Sarah, salam kenal :)

      Informasi yang sangat berguna, khususnya bagi saya dan teman-teman semua.

      Kita semua memang berhak tahu tentang apa yang kita terima sehingga dapat menentukan mana yang baik dan tidak untuk diterima.

      Kalau ada lagi info lainnya ya..Makasi :)

  9. Kapan ya.. Pemerintah Indonesia membebaskan rakyatnya bebas dari vaksinasi..? saya dengar di German, Jepang, Belanda, Turki, rakyatnya tidak di vaksinasi.????

  10. Hi Meihwa,
    Iya ya, semoga suatu saat nanti Pemerintah Indonesia punya program pengganti vaksinasi yang manfaatnya jg lebih bagus, amin :)
    Setahu saya, di Jepang dan Inggris masih ada program vaksinasi, tetapi memang jadwalnya berbeda.

  11. Hi. Riliarully, sudah ketemu ummu salamah? saya fans berat ummu, kalau aja ada 100 orang seperti ummu, Insyallah dunia ini aman.

  12. Ada yang mau datang bedah buku Hj. Ummu Salamah, SH,Hajam. ?..
    1. di Masjid Baiturahman di komplek bea cukai sukapura
    tanjung priuk , Jakarta utara Jumat, 15 Mai 2009 Jam
    20.00 (bada Isa).

    2.di PPIB Bogor 24 Mei 2009 Jam 8-12 infak Rp.10.000
    (40.000+buku). Panitia : 081288169275

    3. Mesjid Nurul Hasanah, Kelurahan Cilincing Jakarta
    Utara tgl 30 Mei 2009 bada Zuhur, Panitia 81380668769

    Dialog inter aktif, tanya jawab di seluruh bidang kehidupan, tanyakan solusinya pada beliau.

  13. Ping balik: Apakah Imunisasi itu Penting? « dinoyudha

    • Hi Mas Dinoyudha, lam kenal.

      Buku itu saya dulu dapet dari temen, kebetulan saya sudah langsung baca sampai habis, tapi kl mau beli banyak infojual di indonetwork kok, salah satunya bisa di :

      contact : Yani Murdani (yani.murdani@yahoo.com)
      08122428032, 08886040146, 02270043560
      Jl. Kapten Halim No.100 Purwakarta 41111, Pondok Ulil Albab Jl.Cisaladah no.18 RT.03/07 Desa Hegarmanah Kec. Jatinangor. Dekat SMUN 1 Jatinangor, Alamat Farm : Jl. P. Sutajaya No.440 Desa Gebang Udik Kec. Gebang Kab. Cirebon, Cirebon Timur 45191
      Sumedang 45363, Jawa Barat
      Indonesia
      Harga Rp. 35rb. Infonya sih bisa dikirim ke seluruh Ind.
      Coba dicontact aja Mas :)

  14. As.wr.wb.

    Pondok Sehat An Nabawiyah mengadakan pelatihan
    Ath- Thibbunabawy bersama :

    -dr. Zaidul Akbar (Pakar Herbalis Internasional)
    – Mira Nurmala ( Iridologist & Herbalis)
    – Hj. Ummu Salamah SH, Hajjam (Herbalis & Penulis buku)

    Teori dan Praktek :
    1. Pengenalan Ath-Thibbunabawy
    2. Anatomi Tubuh
    3.Diagnosa Telapak Tangan
    4.Al-Hijamah /Bekam & Workshop
    5.Iridologi dasar &Workshop
    6.Metode Kedokteran Barat dan Kedokteran Rasulullah
    7. Kiropraktik (Pembentulan tulang belakang)
    8.Step-step membentuk generasi berkwalitas.

    Hari Sabtu dan Minggu tanggal 18 & 19 Juli 2009
    Jam 8.00 hingga selesai
    Biaya Rp 600.000,-
    Fasilitas, Snack, Makan siang, Makalah, Sertifikat

    Pendaftaran Sejak sekarang, tempat terbatas.
    Telepon : 021-7412151, 021 92678315, 081398665033
    Brosur ada di FaceBook : Ummu Salamah
    email: Nabawiyah_islamic@yaho.co.id

  15. Wa’alaikum salam wr.wb

    Terima kasih banyak informasinya Bu.
    Mungkin ada teman-teman lain yang berminat juga.
    Untuk acara seminarnya saja, degan harga lebih terjangkau kira-kira ada ngga ya?
    Jika ada mohon informasinya lagi Bu.
    Terima kasih :)

  16. saya sekarang lagi bingung baget nie, anak saya sekarang baruberumur 4,5 bulan.ketika membaca tentang bahaya iminisasi sy jd ragu untuk mengimunisasi anak saya, tetapi di satu sisi ada rasa kekahwatiran takut apabila anak saya tidak dimunisasi kena penyakit sperti campak dan katanya dapat mengakibatkan kematian. jadi bagaimana solusinya?mohon balasannya ya biar supaya saya dapat membuat suatu keputusan yang bijak bagi kesehatan anak saya. trims

  17. saya sekarang lagi bingung baget nie, anak saya sekarang baruberumur 4,5 bulan.ketika membaca tentang bahaya iminisasi sy jd ragu untuk mengimunisasi anak saya, tetapi di satu sisi ada rasa kekahwatiran takut apabila anak saya tidak dimunisasi kena penyakit sperti campak dan katanya dapat mengakibatkan kematian. jadi bagaimana solusinya?mohon balasannya ya biar supaya saya dapat membuat suatu keputusan yang bijak bagi kesehatan anak saya. trims atas jawabannya.

  18. Salam kenal Pak Nifsu, maaf saya baru balas commentnya skr.
    Pertanyaan itu juga yang pertama saya ajukan setelah saya baca beberapa buku dan artikel tentang bahaya imunisasi, seperti yang sudah saya tuangkan dalam tulisan saya sebelumnya.
    Setelah sharing dengan beberapa teman dan membaca dari berbagai sumber, yang saya lakukan untuk anak saya adalah memberikan imunisasi untuk yang wajib-wajib saja (DPT, polio, hepatitis B dan campak), ditambah dengan imunisasi yang saya rasa perlu dengan pertimbangan pernah terjadi kasus penyakit tersebut di wilayah indonesia khususnya yang dekat dengan lingkungan saya tinggal.
    Untuk anak saya yang pertama (sekarang 28 bulan) saya tambah dengan imunisasi hepatitis A dan beberapa ulangan DPT dan polio, sedangkan anak ke 2 (10 bulan) masih dapat yang wajib dan tanpa ulangan, terakhir imunisasi campak 4 hari yang lalu.
    Dari dokternya, bulan depan ada jadwal untuk imunisasi flu tapi saya belum yakin apa itu perlu.
    Demikian yang dapat saya sharing Pak.
    Semoga anaknya selalu sehat ya.

    • anakku berumur krg 2 mgu.aq lg ragu apakah hrs di imunisasi tau tidak?smp saat ini blm di imun 1 pun.saya msh cr referensi trs

  19. Hi Mia – MamaCipa lam kenal ya

    Kalau menurut yang saya baca dai buku Hj. Ummu Salamah, pasti tidak akan ada imunisasi, apalagi pada umur 2 minggu.
    Tapi biasanya di RS sudah di jadwalnya untuk imunisasi. Anak saya yang pertama malah sebelum pulang dari RS sudah imun. hepatitis B yang pertama (dulu saya hanya mengikuti saja jadwal yang diberikan, masih belum banyak tau).
    Pada anak saya yang ke-2 saya mulai imunisasi setelah 40 hari.
    Iya, memang kita harus rajin cari referensi terutama dari para ahli. Dan sebisa mungkin juga yang memakai cara pandang Islami.
    Maaf saya juga masih awam. Sekedar sharing ya. :) makasi

    • Mba Riyana, maaf terlambat balas nih.
      Informasi bukunya sbb :
      Judul : Imunisasi Dampak, Konspirasi & Solusi Sehat ala Rasulullah SAW
      No. ISBN 9789791848909
      Penulis : Hj Ummu Salamah, SH.. Hajjam
      Penerbit : Nabawiyah Press
      Tanggal terbit : 2008
      Jumlah Halaman 308

  20. Assalamualaikum
    salam kenal, Mba
    Ada buku referensi bagus soal imunisasi, judulnya “yang orangtua harus tahu tentang VAKSINASI pada anak”.
    Pengarangnya Stephanie Cave & Deborah Mitchell. Buku yang sangat bagus menurut saya. Terbitan Gramedia, jd kemungkinan di toko2 gramedia ada.
    Semoga apapun yg kita putuskan, mau memvaksinasi anak atau tidak, bukan akibat sekedar ikut-ikutan tren atau perkataan teman2; namun adalah sebuah keputusan setelah mempertimbangkan dengan matang berbagai fakta yang ada.
    Saya sendiri memvaksinasi 2 anak pertama saya, namun tidak untuk anak ketiga.
    Wassalam

    • Wa’alaikum salam Mba Husna,
      Salam kenal juga ya :)
      Insyaallah nanti saya cari bukunya Mba.
      Tentang imunisasi memang sering jadi dilema buat para orang tua. Apapun itu pasti itu adalah pilihan yang terbaik menurut orang tua masing-masing. Tapi setidaknya pilihan itu akan lebih baik jika didukung oleh lebih banyak informasi lagi.
      Terima kasih banyak informasinya, semoga bisa bermanfaat ya mba.

  21. mungkin bisa jadi bahan pertimbangan tentang tulisan Hj. ummu salamah .
    berikut ini linknya http://www.ykai.net/index.php?view=article&id=380%3Atelaah-buku-imunisasi-dampak-dan-konspirasi&option=com_content&Itemid=121

    ilmu vaksin adalah ilmu kedokteran, yang merupakan ilmu pasti. riset yang dilakukan oleh orang barat maupun non-muslim akan sama hasilnya dengan riset yang dilakukan muslim di dalam lab. seperti memberikan stimulus vaksin pada mencit atau kelinci percobaan, maka akan dihasilkan antibodi.

    sederhananya ilmu pasti itu seperti halnya memasak air hingga mendidih. non-muslim memasak air 100 C, begitu juga dengan orang muslim. maka tidak ada yang namanya tipu2. sebagai muslim juga harus meneliti tentang vaksin hingga ke tingkat molekular.

    maaf, tapi buku tadi kurang memberikan fakta2 ilmiah, jurnal2. sebagai muslim, kita juga perlu ada pencerdasan dalam menelaah. seperti halnya waktu jaman dulu dalam skripsi yang pernah kita buat, tentunya ada metode ilmiah, pembahasan, literatur primer dan sekunder. sumber berita tidak bisa dijadikan literatur primer.

    definisi vaksin dari virus atau bakteri yang dilemahkan itu sudah ketinggalan zaman. dulu memang begitu, tapi sekarang sudah dibuat vaksin yang berasal dari protein sub-unit, vaksin dna, virus like particle (vlp), rekombinan. karena terlalu panjang untuk dijelaskan disini, maka lebih jelasnya silakan diliat di wikipedia :) http://en.wikipedia.org/wiki/Vaccine

    saya juga sebagai muslim masih mengkonsumsi madu, propolis, bersiwak dan sesekali bekam (insya Allah). tapi bagi saya, madu itu memperkuat tubuh, namun untuk melahirkan antibodi yang sesuai dengan penyakit (yang ditimbulkan virus atau bakteri) perlu diberi vaksin.

    vaksin adalah ilmu kedokteran modern. kita tau, siapa bapak ilmu kedokteran modern?? ya, ibnu rusyd. dengan karyanya yang monumental Canon of Medicine (Qanun fi ‘t-tibb). adalah seorang muslim. beliau yang paham al quran dan hukum lebih dalam dari kita saja tetap melakukan penelitian kedokteran modern, apalagi kita. sekiranya beliau tau bahwa kedokteran modern itu dilarang, tentunya beliau tidak akan membuat buku tadi.

    tentang ibnu rusyd bisa dilihat disini http://en.wikipedia.org/wiki/Averroes dan http://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Rusyd

    mohon maaf jika salah2 kata. sebagai muslim tetap saja kita harus mencari ilmu bukan?

    wassalam :)

    • Mba Rus, salam kenal.
      Terima kasih tambahan informasi sekaligus ilmunya.
      Saya jg berpikir demikian. Tapi teknisnya seringkali disalahgunakan untuk kepentingan tertentu. Komersialisasi vaccine, misalnya. Saya memang memvaccine anak-anak saya tapi saya pilih yang memang ada kemungkinan penyakit yang beresiko di sini, di tempat saya tinggal dan sekitarnya.
      Yang pasti, saya hanya seorang ibu yang ingin melakukan yang terbaik untuk buah hatinya.
      Sekali lagi, terima kasih banyak ya Mba :)

      • wah anda benar benar bijak… salut. soalnya ini lagi hot hot nya ni topik.

        vaksin memang dibutuhkan terutama untuk penyakit yg kejadiannya tinggi…

      • Sebenarnya saya tidak begitu peduli dengan hot/tdknya topik ini. Setau saya dilema ini sudah lama dirasakan oleh para ibu. Saya hanya ingin melakukan yg terbaik untuk anak2 saya dengan tetap berdasar pada kenyataan yg ada. Thanks sudah ikutan sharing ya

  22. ada info yang bagus… oiya, “saya” disini bukan Briliana N. Rohima lho…

    ada kesimpulan menarik dari sebuah perbincangan di tetangga sebelah… benarkah kesimpulan itu??? Check it now!!

    1. Metode Pengobatan Ummu Al Hajjam bukanlah sunnah rosul, tapi banyak bercampur dg metode non muslim dan semuanya digeneral jd Sunnah Rosul, jelas tadi pertanyaan saya ke beliau apa itu thibbun nabawi, dan beliau malah memaparkan Yumeiho yang berasl dari non muslim, apa itu tidak mencampur sunnah dan mengaku2 sunnah?

    2. Ummu Salamah Al-Hajjam tidak bisa bahasa arab, ini jelas sudah beliau akui, tapi yg perlu hati2 bahkan beliau tidak mengerti hadits, masak alkohol yang jelas ga ada di hadits, saya disuruh nyari di hadits? Bisa2 sampai mati hidup saya cuma nyari alkohol di hadits dan ga ketemu kesimpulannya, penting bagi seseorang untuk menghukumi sunnah, itu harus paham betul apaitu sunnah agar tidak mengecohkan banyak orang.

    3. Ummu Salamah Al-Hajjam tidak bisa membedakan antara
    Najis/Harom, sehingga kesulitan dalam mengambil hukum

    4. Ummu Salamah Al-Hajjam tidak bisa menjawab semua
    pertanyaan saya dari tadi, dan sibuk tertawa2,maka bisa disimpulkan orang yg tertawa2 tapi tidak bisa diajak ngobrol maka PERLU DIRUQYAH

    5. Penyakit fisik kadang jg bisa mempengaruhi penyakit mental
    begitu juga sebaliknya Itulah sebabnya jd sakit perut, ga ada kisahnya RosuLuLlaah berdakwah sampai sakit perut loh, kecuali emang perlu diruqyah

    6. selain tidak bisa bahasa Arab Ummu Salamah Al-Hajjam
    juga tidak bisa berbahasa Inggris, so kita ajak diskusi ilmiah dg paper bahasa inggris jelas tidak nyambung, kita ajak ngomongin Halal, harom dan sunnah jelas tidak nyambung, Kesimpulannya beliau perlu belajar banyak sebelum dijadikan Rujukan.

    7., ketika tidak bisa menjawab pertanyaan, maka beliau akan
    mundur, dan itu bukanlah etika seorang juru dakwah/ thobbin/ dokter jk ditanya pasiennya :)

    UMMU SALAMAH AL HAJJAM TIDAK BISA DIJADIKAN RUJUKAN baik
    sunnah maupun kedokteran

    Penasaran bukan???? ini dia lengkapnya
    Anyway, if u wanna be careful with ur body and ur life, for sure u must check and recheck again about information…. so i need everybody to share their knowledge here…

    http://www.scribd.com/share/upload/94050040/wzzbm3ovfbvalfbsdam

    • Terima kasih infonya.
      Sebenarnya saya tidak ingin ada yg disudutkan atau menyudutkan karena saya sendiri jg tidak tahu secara langsung. Yg pasti saya hanya ingin melakukan yg terbaik untuk anak2 saya.
      Saya jg berharap,tentang vaccine ini bisa ditujukan untuk kepentingan anak2. Saya jg prihatin saat ada yg malah mengkomersilkan applikasinya.

      • Sebenar ny saya secara pribadi agak bingung dengan “komersialisasi” vaksin. Vaksin yang didapat dengan cara membayar memang mahal, pemerintah tidak sanggup membayar dan kejadiannya malah nggak terlalu banyak.
        Saya sbg praktisi kedokteran, wah saya suka sekali jika ada anak yg sakit campak gara2 ga divaksin. lumayan tuh, tambah2 duit… Ini klo saya berpikiran tentang komersialisasi.
        Tambahan saja, mohon mba Riliarully mengkritisi buku ini dengan sebenar2nya, mempertimbangkan berbagai aspek keilmuan…ini akan jauh lebih baik dibandingkan hanya menyadur buku dan membeberkannya ke masyarakat awam

      • Saya tidak bilang komersialisasi vaccine, tapi saya bilang “Saya jg prihatin saat ada yg malah mengkomersilkan applikasinya”. karena saya pernah menemui yang seperti ini. Dan tambahan dari saya juga Mba, saya tidak merasa pernah menyadur buku yang covernya saya posting di tulisan ini. Saat saat menulis ini, SUDAH SANGAT JELAS saya hanya mengungkapkan apa yg saya alami dan rasakan pada saat itu, termasuk kegundahan saya. Saya tidak pernah membenarkan atau menyalahkan tentang buku ini dalam tulisan saya. waktu itu kedua anak2 saya masih kecil dan masih dapat jadwal vaccine yang sangat padat. Saya orang awam, makanya saya cari referensi, dan banyak referensi yg saya baca tentang hal ini. Dan, saya masih tetap memberikan vaccine untuk anak-anak saya, memang tidak semuanya, tapi sebagian besar jadwal dari dokter anak saya.
        Di tulisan saya disini, JELAS JUGA jika saya minta saran dan masukan dari teman-teman yang lebih tahu untuk berbagi. SEKALI LAGI BUKAN MEYADUR BUKU TERSEBUT.
        Saya kira Mba salah orang jika memperdebatkan hal ini dengan saya karena saya hanya orang awam yang sedang curhat bukan mengulas atau menyadur. Terima kasih informasinya. Sebentar lagi saya akan melahirkan anak ke-3, saatnya mendapatkan jadwal vaccine kembali.

      • Sipp, okay deh…
        Wah wah emang klo vaksin tu topik yg lagi hot skrng. sorry klo kesanny berdebat.. :D

        Oooh, selamat buat kehamilannya, moga2 anak ke3 ini sehat dan sholeh/solehah

  23. Saya “penganut” pro-vaksin. Heran juga ya, ngobrolin urusan kesehatan kok bisa jadi kyk membahas syiah-sunni. :) Awalnya saya pikir Mbak RiliaRully mempromosikan buku di atas, tapi akhirnya lega dgn statement berikut:
    “Setelah sharing dengan beberapa teman dan membaca dari berbagai sumber, yang saya lakukan untuk anak saya adalah memberikan imunisasi untuk yang wajib-wajib saja . . . ditambah dengan imunisasi yang saya rasa perlu dengan pertimbangan pernah terjadi kasus penyakit tersebut di wilayah indonesia khususnya yang dekat dengan lingkungan saya tinggal.”

    Sippp…itu yg penting…. “membaca dari berbagai sumber”, bukan hanya yg pro/anti saja. Jadi nggak bias… :)
    Satu hal, soal konspirasi….umat muslim kan harus kritis….kenapa tdk dipikir terbalik: bisa saja suara2 anti-vaksin ini pd awalnya digaungkan oleh pihak2 munafik yg sebetulnya tdk ingin kaum muslim menjadi sehat, kuat, cerdas, dan berilmu.

    *jangan ditimpuk ya…ini kan PR kita sebagai muslim…harus banyak juga yg berperan sbg ilmuwan kompeten….bukan hanya ustadz/ah atau aktivis*

    • Kalau ingin belajar dan mengetahui tentang imunisasi dan vaksinasi,monggo silahkan gabung ke grup facebook GESAMUN (Gerakan Sadar Imunisasi). Disana dikupas tuntas tentang imunisasi dan vaksinasi,mulai dari sejarah,keamanan,kehalalan,proses pembuatan,macam2 vaksinasi,sampai mengupas tuntas kabar2 simpang siur seputar vaksinasi (buku ini juga dibahas loh). Yang lebih asyik lagi,yang membahas hal tsb adalah orang2 yang ahli dan kompenten di bidangnya yaitu per-vaksin-an :D
      Bukti-buktinya pun sahih,dan juga untuk yg muslim yg masih meragu,disertai dalil dari para ulama ahli agama. Selamat belajar :)

  24. Ummu Salamah SH, Hajjam

    Setelah saya selesai ceramah bersama dengan Ustad Bahtiar Nasir, kalau tak salah pada tahun 2012, di Mesjid Sarinah jaya, beberapa dokter, bidan dan juga praktisi kesehatan dan juga para peserta, berkumpul dan bertanya tentang vaksin, dan Allhamdulillah seorang Bidan senior telah menjadi salah satu yang mendakwahkan tentang pentingnya mengupayakan imunisasi dengan cara Rasul.

    Walau dengan ini memerlukan pengorbanan dan perjuangan yang luar biasa

    Tidak semua bayi terlahir harus di vaksin, dan enggak semua vaksin itu cocok untuk semua bayi. banyak2 anak2 yg sakit keras bahkan meninggal karena di vaksin karena tidak cocok.. Kasian saya itu melihat bayi – bayi di posyandu itu. ….. tanpa ada dulu DIAGNOSA. ………………

    * silahkan buka dari menit ke 22.05

  25. Dokter Ando: ‘Imunisasi Tidak Wajib, Masyarakat Punya Hak Menolak Divaksin’
    February 28, 2014 at 9:31am

    Dokter Ando: ‘Imunisasi Tidak Wajib, Masyarakat Punya Hak Menolak Divaksin’

    3 Maret 2013 by Masjid Al-A’laa Taman teratai – Batam Tinggalkan komentar

    PEMERINTAH sejak lama telah mensosialisasikan program imunisasi kepada masyarakat. Sesuai dengan program organisasi kesehatan dunia WHO (Badan Kesehatan Dunia), pemerintah mewajibkan lima jenis imunisasi bagi anak-anak, yang disebut Program Pengembangan Imunisasi (PPI). Sedangkan tujuh jenis lainnya dianjurkan untuk menambah daya tahan tubuh terhadap beberapa jenis penyakit.

    Namun apakah masyarakat punya hak untuk menolak anaknya diimunisasi dengan vaksin-vaksin yang belum jelas kehalalan zatnya tersebut? Bagi dokter Tryando Bhatara masyarakat punya hak untuk menolaknya, hal tersebut disampaikannya seusai acara seminar “Imunisasi Halal dan Thayyib” yang digelar oleh komunitas Halal Corner pada Sabtu lalu.

    “Kalau saya pribadi sebagai seorang tenaga kesehatan, orang yang berkecimpung di bidang kesehatan, dan juga seorang pengajar, imunisasi tidaklah wajib secara medis,” ujar beliau kepada Islampos.com.

    Terkait bagaimana jika ada kebijakan yang benar-benar mewajibkan imunisasi tersebut, dokter Tryando yang biasa disapa dokter Ando ini menjelaskan bahwa dalam konteks ini sudah ada hubungannya antara hukum dan kedokteran. Dalam hukum sudah ada pasal yang menjelaskan bahwa prosedur medis harus ada persetujuan dari pasien.

    “Setahu saya ada juga pasal yang menampung bahwa setiap prosedur medis harus ada persetujuan dari pasien sehingga menurut saya pribadi kita tidak bisa memaksakan kehendak dalam masalah ini dan hal ini juga terkait dengan kebebasan memilih dan hak azazi manusia,” tegas beliau.

    Alternatif lain yang ditawarkan oleh dokter Ando terkait imunisasi adalah dengan memperkuat daya tahan tubuh, salah satunya dengan terapi nutrisi dan banyak makanan yang ada di sekitar kita yang bisa menjadi nutrisi. Menurut beliau terapi nutrisi pada intinya menyediakan bahan bagi tubuh untuk pertahanan berbeda dengan vaksinasi yang justru memasukkan kebalikannya yaitu memasukkan virus, bakteri yang kemudian diharapkan menimbulkan antibodi.(fq/islampos)

    http://masjidalalaatamanteratai.wordpress.com/2013/03/03/dokter-ando-imunisasi-tidak-wajib-masyarakat-punya-hak-menolak-divaksin/?relatedposts_exclude=958http://masjidalalaatamanteratai.wordpress.com/2012/06/13/hj-ummu-salamah-sh-al-hajjam-tolak-vaksinasi-gunakan-thibbun-nabawi/

  26. vaksin dan omong kosong yg digembar-gemborkan tentang manfaatnya
    March 4, 2014 at 7:12am

    Jika masih percaya vaksin dan omong kosong yg digembar-gemborkan tentang manfaatnya, sebaiknya Anda membaca dulu berita ini. Beritanya masih hangat dan fresh, 2 Maret 2014.

    Vaksin flu babi, PANDEMRIX, produksi GSK (yang juga memproduksi banyak vaksin untuk anak-anak) sudah positif disimpulkan sebagai biang kerok penyebab penyakit narkolepsi dan cataplexy. Penyakit ini telah menelan korban ribuan orang di negara-negara Eropa, baik anak-anak hingga orang dewasa. Pemerintah Inggris memberikan ganti rugi sebesar 60 JUTA POUND STERLING, kepada para korban vaksin ini, karena dampak yg diberikannya bersifat permanen dan membutuhkan pengobatan yg intensif.

    http://www.ibtimes.co.uk/brain-damaged-uk-victims-swine-flu-vaccine-get-60-million-compensation-1438572

    Brain-Damaged UK Victims of Swine Flu Vaccine to Get £60 Million Compensation

    By Tom Porter , Published: March 2, 2014 14:40 PM
    5571 82 2 +

    Bottles of Pandemrix, used as a vaccination against swine flu, now banned for those under 20.

    Patients who suffered brain damage as a result of taking a swine flu vaccine are to receive multi-million-pound payouts from the UK government.

    The government is expected to receive a bill of approximately £60 million, with each of the 60 victims expected to receive about £1 million each.

    Peter Todd, a lawyer who represented many of the claimants, told the Sunday Times: “There has never been a case like this before. The victims of this vaccine have an incurable and lifelong condition and will require extensive medication.”

    Following the swine flu outbreak of 2009, about 60 million people, most of them children, received the vaccine.

    It was subsequently revealed that the vaccine, Pandemrix, can cause narcolepsy and cataplexy in about one in 16,000 people, and many more are expected to come forward with the symptoms.

    Across Europe, more than 800 children are so far known to have been made ill by the vaccine.

    Related

    Video Shows How Deadly Virus Would Spread Globally
    Flu Vaccine Moves Closer to Beat Trans-Species Strains of Deadly Virus
    Quarter of Population Carried Swine Flu during Pandemic

    Narcolepsy affects a person’s sleeping cycle, leaving them unable to sleep for more than 90 minutes at a time, and causing them to fall unconscious during the day. The condition damages mental function and memory, and can lead to hallucinations and mental illness.

    Cataplexy causes a person to lose consciousness when they are experiencing heightened emotion, including when they are laughing.

    The Pandemrix vaccine was manufactured by pharmaceuticals giant Glaxo Smith Kline, which refused to supply governments unless it was indemnified against any claim for damage caused. The company will pay the bill, and claim the money back from the government.

    “There’s no doubt in my mind whatsoever that Pandemrix increased the occurrence of narcolepsy onset in children in some countries – and probably in most countries,” Emmanuelle Mignot, a specialist in sleep disorder at Stanford University in the United States told Reuters.

    Mignot has been paid by GSK to research the effects of the drug.

    Among those affected are NHS medical staff, many of whom are now unable to do their jobs because of the symptoms brought on by the vaccine. They will be suing the government for millions in lost earnings.

    However, the vast majority of patients affected – around 80% – are children.

    Among them is Josh Hadfield, 8, from Somerset, who is on anti-narcolepsy drugs costing £15,000 a year to help him stay awake during the school day.

    “If you make him laugh, he collapses. His memory is shot. There is no cure. He says he wishes he hadn’t been born. I feel incredibly guilty about letting him have the vaccine,” said his mother Caroline Hadfield, 43.

    Despite a 2011 warning from the European Medicines Agency against using the vaccine on those under 20 and a study indicating a 13-fold heightened risk of narcolepsy in vaccinated children, GSK has refused to acknowledge a link.

    “Further research is needed to confirm what role the vaccine may have played in the development of narcolepsy in those affected,” the company said in a statement.

    https://www.facebook.com/notes/ummu-salamah-al-hajjam-ii/vaksin-dan-omong-kosong-yg-digembar-gemborkan-tentang-manfaatnya/688656627842843

  27. Kamis, 17 Rabiul Akhir 1435 H / 5 Desember 2013 12:25 wib

    Obat Mengandung Babi, Menkes Tolak Sertifikasi Halal Produk Farmasi
    JAKARTA (voa-islamlcom) – Setelah membuat marah umat Islam melalui program Pekan Kondom Nasional yang diisi sosialisasi penggunaan kondom dan pembagian kondom gratis, Menteri Kesehatan RI kembali menyinggung perasaan umat Islam melalui penolakannya atas sertifikasi halal produk Farmasi pada Rancangan Undang-undang Jaminan Produk Halal (RUU JPH). Alasannya, hampir semua obat dan vaksin mengandung babi.
    “Kita menolak sertifikasi halal itu untuk vaksin dan obat-obatan,” Ujar Nafsiah di Jakarta, Selasa (3/12/2013).
    Menurut Menteri yang gemar mengampanyekan penggunaan Kondom sebagai solusi mengatasi penyebaran Aids ini, bila sertifikasi halal itu diterapkan, vaksin yang mengandung babi itu tidak akan bisa digunakan karena tidak memiliki sertifikasi halal.
    hampir semua obat dan vaksin mengandung babi. [Menkes, Nafsiah Mboi]
    Dia mengakui, bahwa produk farmasi seperti obat dan vaksin memang mengandung barang haram sehingga tidak bisa disertifikasi halal. Sehingga Mboi menilai produk farmasi perlu dipisahkan dari makanan dan minuman dalam RUU JPH.

    “Contohnya, walaupun bahan vaksin tidak mengandung babi, tapi katlisatrnya itu mengandung unsur babi. Sehingga tidak bisa dinilai kehalalannya,” ujarnya.
    Ia mencontohkan, bagaimana jika seorang yang berhaji terkena influenza. Karena obatnya mengandung babi, kemudian orang tersebut tak bisa mengobati penyakit tersebut. “Itulah, kita berharap sebaiknya dipisahkan,” katanya.
    Membenarkan penolakannya tersebtu, Mboi berdalih, jika vaksin itu dibutuhkan secara mendesak maka tidak boleh digunakan pada tubuh manusia karena tidak mempunyai sertifikat halal. [PurWD/dbs/voa-islam.com]

    : http://www.voa-islam.com/…/obat-mengandung-babi…/…
    Obat Mengandung Babi, Menkes Tolak Sertifikasi Halal Produk Farmasi – VOA-ISLAM.COM
    http://www.voa-islam.com

    Vaksin dan Obat mengandung BABI sehingga tak bisa di sertivikasi halal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s